B Berita

img

Media Sosial vs Media Mainstream

, Berita

Gerakan tujuh juta status di media sosial, terutama Facebook yang viral dan membanjiri linimasa beberapa hari ini, yaitu: Kami percaya ulama, Habib Rizieq, dan mendukung perjuangannya (lengkap dengan notabene berupa trik agar tidak mudah terbaca atau dibatasi oleh algoritma Facebook: Jangan di-share tapi di-copypaste, agar tembus tujuh juta) adalah sikap yang coba ditunjukkan oleh netizen (warga internet) sebagai salah satu aksi dari rentetan berbagai pro kontra yang terjadi akhir-akhir ini.
Mulai dari tuntutan keadilan hukum terhadap dugaan kasus penistaan agama, hingga melebar ke masalah Bhineka Tunggal Ika. Dari ranah online lalu diikuti kopi darat, sejumlah massa dengan jargonnya masing-masing, semuanya bebas mengklaim. Tinggal perilaku di lapangan saja yang akan menunjukkan watak sejatinya.


Internet menjadi sarana menyampaikan pesan-pesan dakwah Islam karena lebih efektif dan murah saat ini karena tersedia dalam berbagai platform, mulai dari yang gratis seperti media sosial, hingga yang berbayar.
“Media sosial seperti mata pisau, yang satu sisinya memberikan manfaat, sedangkan sisi lainnya membahayakan,” kata wartawan Republika Ahmad Baraas saat workshop yang dilaksanakan Forum Diskusi Islam di Denpasar, Ahad (21/5).
Pendapat tersebut mengemuka dalam diskusi publik “Kebebasan Berekspresi antara Media Sosial dan Media Mainstream Secara Aman dan Nyaman dalam Sisi Hukum”.


Praktisi hukum Zulfikar Ramli mengatakan, peran media sosial perlu ditingkatkan dalam dakwah. Media sosial dinilai sebagai tempat yang paling bebas yang dimiliki setiap orang untuk mengekspresikan isi hatinya.
Menurutnya medsos adalah tempat yang paling jujur, tempat tanpa pengeditan atau sensor. Berbeda dengan media mainstream yang diatur Undang-undang tentang pers dan kode etik jurnalistik.


Namun sepertinya media mainstream kadang terjebak dengan pola di medsos yang serba instan dan cepat, sehingga tidak jarang melakukan blunder, seperti memberitakan info yang kurang objektif bahkan tentang hoax (berita bohong). Akibatnya terjadi gerakan anti mainstream atau perlawanan dari masyarakat di medsos.


“Kalau harga televisi itu cuma 100.000 rupiah, mungkin sudah tiap hari ku pecah-ke,” ungkap KH Taufik Hasnuri saking kesalnya dengan pemberitaan di TV saat Zikir dan Tabligh Akbar dalam rangkaian acara Milad PKS ke-19 di halaman DPRD Provinsi Sumatera Selatan, Ahad (7/5).


Ia hadir bersama para ustadz diantaranya Habib Mahdi Shahab yang baru-baru ini sibuk menjadi panitia pelaksana Haul dan Ziarah Kubro. Salah satu tradisi tahunan ke makam para ulama dan aulia yang melibatkan belasan ribu orang termasuk Keluarga Kesultanan Palembang Darussalam.


Habib Mahdi yang jarang tampil di panggung politik, bahkan ikut memberi tausiyah dan menitipkan pesan kepada kader PKS, serta simpatisan yang hadir.


Mendekati bulan Ramadhan 1438 yang tinggal hitungan jari lagi, semoga suasana semakin mereda dan damai, tak ada lagi provokasi dari satu-dua orang atau kelompok yang menuai kecaman serta keutuhan bangsa.


“Islam adalah harga mati, sedangkan NKRI adalah harga hidup!” seloroh Ketua Forum Umat Islam Sumsel Umar Said.

 

PKS Palembang @pks_palembang

2 Shafar - Ahad (22/10) Maghrib 17:54 Isya 19:04 Subuh 04:23 Zuhur 11:48 Ashar 15:02 ↪ untuk sekitar Palembang https://t.co/ZfHj1e3pGj
1 Shafar - Sabtu (21/10) Maghrib 17:54 Isya 19:04 Subuh 04:23 Zuhur 11:48 Ashar 15:02 ↪ untuk sekitar Palembang https://t.co/2KwOQ1BQYV